makalah belajar

BAB I

PEMBAHASAN

  1. Definisi Belajar

Suatu usaha yang dilakukan dengan kesadaran sendiri yang merujuk pada interkasi seseorang (individu) dengan lingkungan, yang menghasilkan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman. Belajar meliputi segala perubahan baik berpikir, pengetahuan, informasi, kebiasaan, keterampilan, kemampuan (skill) maupun sikap dan nilai-nilai positif yang diperoleh dari belajar. Belajar tidak hanya di sekolah atau pun di kampus, akan tetapi belajar bisa dimana pun dan belajar melalui segalanya bahkan dari hal kecil pun. Bisa belajar dari pengalam hidup dan lain sebagainya.

Belajar merupakan suatu proses perubahan yang tidak baik menjadi lebih baik. Belajar adalah kunci pengetahuan dan merupakan jendela dunia. Belajar adalah suatu proses kehausan dengan ilmu dan keingin tahuan degan ilmu maupun pengetahuan. Dan sebuah proses yang dilakukan seseorang untuk mencari informasi tentang sesuatu yang bersifat baru. Belajar paling utama menumbuhkan ilmu yang mampu dijadikan menjadi sebuah senjata untuk bersaing menjadi lebih baik. Dengan ilmu seseorang bisa dibedakan dengan orang yang tidak berilmu dari pola pikir dan sudut pandang mengambil keputusan dalam bertindak dan dalam keadaan mempunyai masalah. Belajar dengan sungguh-sungguh membuat seseorang sukses baik di dalam sekolah maupun di luar lapangan (di tempat bekerja).

  1. Proses Belajar
  2. Proses Internal

Suatu proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri dan dari orang-orang terdekat. Seperti contoh :

  1. Belajar melalui guru atau dosen
  2. Belajar melalui teman
  3. Belajar melalui keluarga (orang tua)
  4. Proses Eksternal

Suatu proses belajar yang berasal dari luar linngkungan sekitar.

Seperti contoh :

  1. Belajar dari pengalaman
  2. Belajar dari internet
  3. Belajar dari buku
  4. Manfaat Atau Tujuan Belajar
  5. Untuk mendapatkan pengetahuan baru yang belum diketahui
  6. Menambah informasi atau wawasan
  7. Mampu memecahkan masalah yang dihadapi
  8. Menumbuhkan keterampilan dan skill
  9. Penanaman sikap mental yang baik
  10. Membangun budi pekerti atau tingkah laku yang baik
  11. Membangun pola pikir dan sudut pandang yang baik
  12. Perintah Menuntut Ilmu (Belajar) dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist
  13. Perintah Dalam Al-Qur’an
  14. Al-Alaq {96} : 1-5

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-Mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam (baca tulis). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

  1. Az-Zumar {39} : 9

Artinya : Katakanlah : “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

  1. Al-Ashr {103} : 1-3

Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

  1. Al-Ankabut {29} : 43

Artinya : “Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buat untuk manusia dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”.

 

 

 

  1. Perintah Dalam Al-Hadist
  2. Mencari ilmu itu wajib bagi setiap mukmin baik pria dan wanita

“Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. (HR. Ibnu Abdul Barr)

  1. Belajar (mencari ilmu) sampai ke negeri cina

“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri cina”. (HR. Ibnu Adi dan Al-Baihaqi dari Anas)

  1. Difardukan atas setiap muslim yang berakal

“Menuntut ilmu itu fardhu atas setiap muslim”. (HR. Abu Na’im dari Hadist Ali)

  1. Dimudahkan untuk sampai ke surga di akhirat

“Barang siapa yang menempuh jalan yang padanya ia menuntut ilmu, maka Allah menempuhkannya jalan ke surga”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

  1. Menuntut lmu dikarenakan ketaqwaan dan ilmu adalah sahabat yang setia

Rasulullah Bresabda : “Belajarlah ilmu karena sesungguhnya belajarnya karena Allah itu adalah taqwa, menuntutnya itu adalah ibadah, mempelajarinya itu tasbih, membahasnya itu adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya itu adalah sedekah, memberikannya kepada keluarganya itu adalah pendekatan diri (kepada Allah), ilmu itu adalah penghibur dikala sendirian, teman dikala sepi, petunjuk kepada agama, pembuat sabar dikala suka dan duka, kerabat dikala dalam kalangan orang asing dan sebagai menara jalan ke surga. Dengannya Allah mengangkat kaum-kaum, lalu dia menjadikan sebagai ikutan, pemimpin dan petunjuk yang diikuti, penunjuk pada kebaikan, jejak mereka dijadikan kisah dan perbuatan mereka  diperhatikan. Malaikat senang terhadap perilaku mereka dan mengusap mereka dengan sayap mereka (malaikat). Setiap barang yang basah dan kering sehingga ikan di lautan, serangga, binatang buas, binatang jinak di daratan, dan langit serta bintang memohonkan ampun bagi mereka”. (Dari Muadz bin Jabbah)

  1. Factor Gangguan (Noise) Dalam Belajar
  2. Kesulitan dalam pemusatan perhatian (fokus) terhadap materi yang dipelajari
  3. Gangguan daya ingat (mudah lupa)
  4. Kesulitan dalam menghafal materi yang dipelajari
  5. Kesulitan dalam memahami materi yang dipelajari
  6. Kurangnya fasilitas untuk menunjang aktivitas belajar
  7. Bergantung pada fasilitas yang instan seperti internet, hal ini dapat membodohkan pembelajar secara tidak langsung. Dan dengan adanya internet membuat kita malas dan selalu tergantung.
  8. Cepat malas dalam belajar
  9. Cepat bosan dalam belajar
  10. Dan cepat mengantuk dalam belajar
  11. Hasil Yang Didapat Dalam Belajar
  • Pintar Atau Cerdas

Pintar salah satu hasil dari aktivitas belajar, dalam belajar otak adalah kunci utama. Otak banyak berfungsi dalam aktivitas belajar dan bagian tersebut disebut dengan pintar. Kepintaran atau kecerdasan otak yang membedakan pola pikir dan sudut pandang seseorang dalam menjalani hidup. Mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam mengambil tindakan ketika tertimpa masalah. Kecerdasan juga dapat menjadikan seseorang sukses baik itu sukses dalam belajar di sekolah maupun sukses dibidang bisnis (pekerjaan).

  1. Sarana Dan Prasarana Dalam Belajar

Yang harus ada dalam belajar adalah sarana dan prasarana, karena tanpa itu dalam belajar kurang lengkap. Sarana dan prasarana harus memadai dalam belajar agar tercipta belajar yang efektif dan baik. Dan menghasilkan otak-otak yang cerdas dan mampu bersaing di dunia. Sarana dan prasarana yang dimaksudkan seperti contoh :

  1. Alat tulis
  2. Fasilitas buku
  3. Tempat atau ruangan yang nyaman dalam belajar
  4. Fasilitas tambahan seperti Perpustakaan, ruang Lab, Komputer dan lain sebagainya.

 

BAB II

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Suatu usaha yang dilakukan dengan kesadaran sendiri yang merujuk pada interkasi seseorang (individu) dengan lingkungan, yang menghasilkan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman. Belajar meliputi segala perubahan baik berpikir, pengetahuan, informasi, kebiasaan, keterampilan, kemampuan (skill) maupun sikap dan nilai-nilai positif yang diperoleh dari belajar. Belajar tidak hanya di sekolah atau pun di kampus, akan tetapi belajar bisa dimana pun dan belajar melalui segalanya bahkan dari hal kecil pun. Bisa belajar dari pengalam hidup dan lain sebagainya.

Dalam Al-Qur’an dan Al-hadist sudah tertera dengan jelas bahwa perintah menuntut ilmu (belajar) sangat di anjurkan bahkan di fardhukan (diwajibkan) bagi setiap mukmin baik laki-laki maupun wanita. Jadi sudah jelas sekali setiap manusia harus bersungguh-sungguh dalam belajar.

Adapun manfaat dalam belajar sangatlah banyak seperti menambah pengetahuan dan wawasan, menambah informasi, menumbuhkan skill dan menanamkan pola pikir dan sikap mental yang baik. Selain itu belajar juga ada factor gangguannya seperti malas belajar, cepat bosan dan cepat mengantuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Saran

Al-hamdulilahirabbil al-amin

 

Telah selesailah makalah yang penulis buat ini, makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka oleh karena itu kami mengharapkan kepada Dosen pengampuh mata kuliah ini dan para mahasiswa untuk agar dapat memberi kritik dan saran terhadap makalah yang telah kami buat ini.

Saran untuk kita semua gunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Karena dengan belajar kunci dari segala kesulitan yang menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan. Dan belajar sangat berpengaruh terhadap masa depan yang cemerlang yakni sukses dan behasil dalam segala bidang.

Dengan dibuatnya makalah tentang belajar ini, harapan dari penulis semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para Mahasiswa. Amin

 

Billahi taufiq wal hidayah

Summassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Http ://marhaifa.wordpress.com/2009/03/15/perintah-menuntut-ilmu-dalam-al qur’an-dan-al hadist/. Dikases pada 14 oktober 2015 pukul 18:06 am
  2. Hasil refrensi pemikiran sendiri dari penulis makalah.

 

contoh makalah Qadariyah

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah, ternyata tidak sesempit yang dipahami pada umumnya. Dalam sejarah pemikiran Islam, terdapat lebih dari satu aliran yang berkembang. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama-ulama kalam dalam memahami ayat-ayat al-Quran. Ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan ada pula ayat yang menunjukkan bahwa segala yang terjadi itu ditentukan oleh Allah, bukan kewenangan manusia . Dari perbedaan pendapat inilah lahir aliran Qadaryiah dan Jabariyah serta aliran-aliran lainya.

Aliran Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan kata lain manusia mempunyai qudrah (kekuatan untuk melaksanakan kehendak atau perbuatannya). Dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia harus tunduk pada qadar Tuhan.

Sedangkan Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan kehendak dalam menentukan perbuatannya. Kalaupun ada kehendak dan kebebasan yang dimiliki manusia, kehendak dan kebebasan tersebut tidak memiliki pengaruh apapun, karena yang menentukannya adalah kehendak Allah semata .

Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M. Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin, aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen, kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. Namanya adalah Susan, demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Sementara W. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa pengertian dari paham Qadariyah
  3. Ajaran-ajaran apa saja dalam paham Qadariyah
  4. Bagaimana sejarah kemunculan paham Qadariyah dan ruang lingkupnya

 

  1. Tujuan
  2. Untuk mengetahui pengertian dari paham Qadariyah
  3. Untuk mengetahui ajaran-ajaran dalam paham Qadariyah
  4. Untuk mengetahui sejarah kemunculan paham Qadariyah dan ruang lingkupnya.

 

 

 

 

.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Dan Penisbatan Paham Qadariyah

Pengertian Qadariyah secara etomologi, berasal dari bahasa Arab, yaitu qadara yang bemakna kemampuan dan kekuatan. Adapun secara terminology atau istilah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Allah. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Aliran ini lebih menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. Sebab itulah faham seperti ini dinisbatkan dengan istilah Qadariyah.

Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. Hadariansyah, orang-orang yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. Manusia mampu melakukan perbuatan, mencakup semua perbuatan, yakni baik dan buruk.

Kaum Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut faham Qadariyah, manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan demikian nama Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan.

Sedangkan nama Qadariyah diberikan kepada golongan ini oleh lawan teologinya lantaran sikap dan pendapatnya yang memandang : manusia itu bebas dan mempunyai kekuasaan (qudrah) untuk melaksanakan kehendak dan segala perbuatannya. Dalam teologi modern faham Qadariyah ini dikenal dengan nama  free willfreedom of willingness atau fredom of action, yaitu kebebasan untuk berkehendak atau kebebasan untuk berbuat. Sebenarnya faham Qadariyah ini lebih pas dialamatkan kepada kelompok yang menyatakan bahwa qadar Allah telah menentukan segala tingkah laku manusia baik perilaku yang baik maupun yang jahat sekalipun.

Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ketika faham Qadariyah dibawa kedalam kalangan mereka oleh orang-orang Islam yang bukan berasal dari Arab padang pasir, hal itu menimbulkan kegoncangan dalam pemikiran mereka. Paham Qadariyah itu mereka anggap bertentangan dengan ajaran Islam. Adanya sikap menentang faham Qadariyah ini dapat dilihat dalam ungkapan lain bahwa:“kaum Qadariyah adalah kaum majusinya umat Islam”, dalam pengertian sebagai golongan yang tersesat.

Jadi istilah Qadariyah dinisbatkan kepada faham ini, bukan berarti faham ini mengajarkan percaya pada taqdir, justru sebaliknya faham Qadariyah adalah faham pengingkaran taqdir. Penyebab lebih dikenalkanya penisbatan dan sebutan Qadariyah para pengingkar takdir ialah:

  1. Tersebar luasnya madzhab asy’ariyah sehingga menjadikan kaum qadariyah dan mu’tazilah sebagai minoritas dihadapan kaum asy’ariyah yang mayoritas.
  2. Tuduhan adanya kesamaan antara kaum Qadariyah dengan penganut agama majusi, sebab yang diketahui bahwa kaum majusi membatasi takdir ilahi hanya pada apa yang mereka namakan kebaikan saja, sedangkan kejahatan berada diluar takdir ilahi

 

 

  1. Asal Usul Kemunculan Paham Qadariyah

Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M.

Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin, aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen, kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. Namanya adalah Susan, demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Sementara W. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M.

Iftiraq (perpecahan) itu sendiri mulai terjadi setelah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu terbunuh. Pada masa kekhalifahan Utsman, belum terjadi perpecahan yang serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum muslimin pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, barulah muncul kelompok Khawarij dan Syi’ah. Sementara pada masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan Umar Radhiyallahu ‘anhu, bahkan pada masa kekhalifahan Utsman Radhiyallahu ‘anhu, belum terjadi sama sekali perpecahan yang sebenarnya.

Selanjutnya, para sahabat justru melakukan penentangan terhadap perpecahan yang timbul. Janganlah dikira para sahabat mengabaikan atau tidak tahu menahu tentang fenomena negatif ini. Dan jangan pula disangka mereka kurang tanggap terhadap masalah perpecahan ini, baik seputar masalah pemikiran, keyakinan, pendirian maupun perbuatan. Bahkan mereka tampil terdepan menentang perpecahan dengan gigih. Mereka telah teruji dengan baik dalam sepak terjang menghadapi perpecahan tersebut dengan segala tekad dan kekuatan.

Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang politik Bani Umayyah, karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya selalu mendapat tekanan, bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh Qadariyah dapat dikatakan lenyap tapi hanya untuk sementara saja, sebab dalam perkembangan selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam faham Mu’tazilah.

 

  1. Dokterin-Dokterin Paham Qadariyah

Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Tokoh an-Nazzam menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya, dan dengan daya itu ia dapat berkuasa atas segala perbuatannya.

Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal, pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara kedua aliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin qadar lebih luas di kupas oleh kalangan Mu’tazilah sebab faham ini juga menjadikan salah satu doktrin Mu’tazilah akibatnya, orang menamakan Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan tuhan.

Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat, itu didasarkan atas pilihan pribadinya sendiri, bukan oleh takdir Tuhan. Karena itu sangat pantas, orang yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya.

Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu, yaitu paham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatannya, manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya. Dengan demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya, sejak azali, yaitu hukum yang dalam istilah al-Quran adalah sunnatullah.

Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah. Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berbuat lain, kecuali mengikuti hukum alam. Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa barang dua ratus kilogram.

Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan kepada Allah. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat al-Quran yang berbicara dan mendukung paham itu, seperti berikut:

  1. Fush-Shilat : 40

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير

Artinya: “Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki sesungguhnya Ia melihat apa yang kamu perbuat”. (QS. Fush-Shilat : 40).

  1. Ali Imran :165

 

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: “dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS.Ali Imran :165)

  1. Ar-Ra’d :11

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan [Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.] yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS.Ar-Ra’d :11)

 

  1. Asas-asas Paham Qadariyah
  2. Mengingkari takdir Allah Taala dengan maksud ilmuNya.
  3. Melampaui atau berlebihan didalam menetapkan kemampuan manusia dengan menganggap mereka bebas berkehendak (iradah). Di dalam perbuatan manusia, Allah tidak mempunyai pengetahuan (ilmu) mengenainya dan ia terlepas dari takdir (qadar). Mereka menganggap bahawa Allah tidak mempunyai pengetahuan mengenai sesuatu kecuali selepas ia terjadi.
  4. Mereka berpendapat bahawa Allah tidak bersifat dengan suatu sifat yang ada pada makhluknya. Karena ini akan membawa kepada penyerupaan (tasybih). Oleh itu mereka menafikan sifat-sifat Ma’ani dari Allah Taala.
  5. Mereka berpendapat bahawa al-Quran itu adalah makhluk, Ini disebabkan pengingkaran mereka terhadap sifat Allah.
  6. Mengenal Allah wajib menurut akal, dan iman itu ialah mengenal Allah. Jadi menurut faham Qadariyah, Iman adalah pengetahuan dan pemahaman, sedang amal perbuatan tidak mempengaruhi iman. Artinya, orang berbuat dosa besar tidak mempengaruhi keimanannya.
  7. Mereka mengingkari melihat Allah (rukyah), kerana ini akan membawa kepada penyerupaan (tasybih).
  8. Mereka mengemukakan pendapat tentang syurga dan neraka akan musnah (fana’), selepas ahli syurga mengecap nikmat dan ahli neraka menerima azab siksa.
  9. Tokoh-tokoh paham Qadariyah

Perpecahan dalam Islam sangat erat kaitannya dengan aliran Qadariyah, karena aliran tersebut dapat dikatakan dari perpecahan itu sendiri, berikut ini adalah tokoh-tokoh yang termasuk didalamnya tokoh pencetus aliran Qadariyah :

  1. Ibnu Sauda’ Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi

Dia adalah seorang Yahudi yang mengaku-ngaku beragama Islam 34 H. Ibnu Sauda’ ini memadukan antara faham Khawarij dan Syi’ah.

  1. Ma’bad Al-Juhani (meninggal dunia tahun 80 H)

Dia meluncurkan pemikiran seputar masalah takdir sekitar tahun 64 H. Ia menggugat ilmu Allah dan takdirNya. Ia mempromosikan pemikiran sesaat itu terang-terangan sehingga banyak meninggalkan ekses. Disamping orang-orang yang mengikutinya juga banyak. Namun bid’ahnya ini mendapat penentangan yang sangat keras dari kaum Salaf, termasuk di dalamnya para sahabat yang masih hidup ketika itu, seperti Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

Menurut Al-Zahabi dalam kitabnya Mizan al-I’tidal, yang dikutip Ahmad Amin dalam Sirajuddin Zar, menerangkan bahwa ia adalah tabi’in yang dapat dipercaya, tetapi ia memberikan contoh yang tidak baik dan mengatakan tentang qadar. Lalu ia dibunuh oleh al-Hajjaj karena ia memberontak bersama Ibnu al-Asy’as. Tampaknya disini ia dibunuh karena soal politik, meskipun kebanyakan mengatakan bahwa terbunuhnya karena soal zindik. Ma’bad Al-Jauhani pernah belajar kepada Hasan Al-Bashri, dan banyak penduduk Basrah yang mengikuti alirannya .

  1. Ghailan Ad-Dimasyqi

Sepeninggal Ma’bad, Ghailan Ibnu Muslim al-dimasyqy yang dikenal juga dengan Abu Marwan. Menurut Khairuddin al-Zarkali dalam Sirajuddin Zar menjelaskan bahwa Ghailan adalah seorang penulis yang pada masa mudanya pernah menjadi pengikut Al-Haris Ibnu Sa’id yang dikenal sebagai pendusta. Ia pernah taubat terhadap pengertian faham qadariyahnya dihadapan Umar Ibnu Abdul Aziz, namun setelah Umar wafat ia kembali lagi dengan mazhabnya.

Dialah yang mengibarkan pengaruh cukup besar seputar masalah-masalah takdir sekitar tahun 98 H. Dan juga dalam masalah ta’wil, ta’thil (mengingkari sebagian sifat-sifat Allah) dan masalah irja. Para salaf pun menentang pemikirannya itu. Termasuk diantara yang menentangnya adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menegakkan hujjah atasnya, sehingga Ghailan menghentikan celotehannya sampai Umar bin Abdul Aziz wafat. Namun setelah itu, Ghailan kembali meneruskan aksinya. Ini merupakan ciri yang sangat dominan bagi ahli bid’ah, yaitu mereka tidak akan bertaubat dari bid’ah. Sekalipun hujjahnya telah dipatahkan, mereka tetap kembali menentang dan kembali kepada bid’ahnya. Ghailan ini akhirnya dihukum mati setelah dimintai taubat namun menolak bertaubat pada tahun 105 H. Dia mati dihukum oleh Hisyam Abdul al-Malik (724-743). Sebelum dijatuhi hukuman mati diadakan perdebatan antara Ghailan dan al-Awza’i yang dihadiri oleh Hisyam sendiri.

  1. Al-Ja’d bin Dirham (yang terbunuh tahun 124H)

Dia mengembangkan pendapat-pendapat sesat pendahulunya dan meracik antara bid’ah Qadariyah dengan bid’ah Mu’aththilah dan ahli ta’wil. Kemudian ia menyebarkan pemikiran rancu (syubhat) di tengah-tengah kaum muslimin. Sehingga para ulama Salaf memberi peringatan kepadanya dan menghimbaunya untuk segera bertaubat. Namun ia menolak bertaubat. Para ulama membantah pendapat-pendapat Al-Ja’d ini dan menegakkan hujjah atasnya, namun ia tetap bersikeras. Maka semakin banyak kaum muslimin yang terkena racun pemikirannya.

para ulama memutuskan hukuman mati atasnya demi tercegahnya fitnah (kesesatan). Ia pun dibunuh oleh Khalid bin Abullah Al-Qasri. Kisah terbunuhnya Al-Ja’d ini sangat mashur, Khalid berpidato seusai menunaikan shalat ‘Idul Adha : “Sembelihlah hewan kurban kalian, semoga Allah menerima sembelihan kalian, sementara aku akan menyembelih Al-Ja’d bin Dirham, karena telah mendakwahkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalilNya dan Allah tidak mengajak Nabi Musa berbicara dan seterusnya”. Kemudian beliau turun dari mimbar dam menyembelihnya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 124 H.

  1. Al-jahm bin Shafwan

Sesudah peristiwa itu, api kesesatan sempat padam beberapa waktu. Hingga kemudian marak kembali melalui tangan Al-Jahm bin Shafwan. Yang mengoleksi bid’ah dan kesesatan generasi pendahulunya serta menambah bid’ah baru. Akibat ulahnya muncullah bid’ah Jahmiyah serta kesesatan dan penyimpangan kufur lainnya yang ditularkannya. Al-Jahm bin Shafwan ini banyak mengambil ucapan-ucapan Ghailan dan Al-Ja’d, bahkan ia menambah lagi dengan bid’ah ta’thil (penolakan sifat-sifat Allah), bid’ah ta’wil, bid’ah irja’, bid’ah Jabariyah, bid’ah Kalam, dan sebagainya. Al-Jahm akhirnya dihukum mati pada tahun 128 H

  1. Washil bin Atha’ dan Amr bin Ubeid

Orang ini muncul bersamaan di masa Al-Jahm bin Shafwan. Mereka berdua meletakkan dasar-dasar pemikiran Mu’tazilah Qadariyah.

 

  1. Sekte Paham Qadariyah

Seperti faham dalam ilmu kalam lainnya, faham Qadariyah pun terpecah menjadi beberapa kelompok. Banyak pendapat tentang perpecahan Qadariyah ini, diantaranya dikatakan bahwa faham Qadariyah terpecah menjadi dua puluh kelompok besar, yang setiap kelompok dari mereka mengkafirkan kelompok yang lainnya. Dua puluh aliran dari Qadariyah itu adalah Washiliyah, ‘Amruwiyah, Hudzaliyah, Nazhamiyah, Murdariyah, Ma‘mariyah, Tsamamiyah, Jahizhiyah, Khabithiyah, Himariyah, Khiyathiyah, Syahamiyah, Ashhab Shalih Qubbah, Marisiyah, Ka‘biyah, Jubbaiyah, Bahsyamiyah, Murjiah Qadariyah. Dari Bahsyamiyah lahir pula aliran besar, yakni Khabithiyah dan Himariyah.

Dan sesungguhnya Qadariyah terpecah-pecah menjadi golongan yang banyak, tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah, setiap golongan membuat madzhab (ajaran) tersendiri dan kemudian memisahkan diri dari golongan yang sebelumnya. Inilah keadaan ahlul bid’ah yang mana mereka selalu dalam perpecahan dan selalu menciptakan pemikiran-pemikiran dan penyimpangan-penyimpangan yang berbeda dan saling berlawanan. Namun berapa banyak pun jumlah golongan dari hasil perpecahan penganut faham Qadariyah, tetap saja hal ini berujung dan bersumber pada tiga pemahaman.

  1. Golongan Qadariyah yang pertama adalah mereka yang mengetahui qadha dan qadar serta mengakui bahwa hal itu selaras dengan perintah dan larangan, mereka berkata jika Allah berkehendak, tentu kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya, dan kami tidak mengharamkan apapun.
  2. Qadariyah majusiah, adalah mereka yang menjadikan Allah berserikat dalam penciptaan-penciptaan-Nya, sebagai mana golongan-golongan pertama menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam beribadat kepadanya, sesungguhnya dosa-dosa yangterjadi pada seseorang bukanlah menurut kehendak Allah, kadang kala merekaberkata Allah juga tidak mengetahuinya.
  3. Qadariyah Iblisiyah, mereka membenarkan bahwa Alah merupakan sumber terjadinya kedua perkara (pahala dan dosa) Adapun yang menjadikan kelebihan dari paham ini membuat manusia menjadi kreatif dan dinamis, tidak mudah putus asa, ingin maju dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman, namun demikian mengeliminasi kekuasaan Allah juga tidak dapat dibenarkan oleh paham lainnya (Ahlussunah wal jamaah).
  • Sedangkan dalam segi pengamalan Qadariyah terbagi dua, yaitu:
  1. Qadariyah yang ghuluw (berlebihan) dalam menolak takdir
  2. Qadariyah yang ghuluw (berlebihan) dalam menetapkan takdir.

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Intinya paham Qadariyah menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. Manusia mampu melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk tanpa campur tangan dari Allah S.W.T. Kaum Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. . Dalam teologi modern faham Qadariyah ini dikenal dengan nama  free willfreedom of willingness atau fredom of action, yaitu kebebasan untuk berkehendak atau kebebasan untuk berbuat.

Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih merupakan sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian pakar teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad al-Jauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M.

Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad Amin, aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada mulanya beragama Kristen, kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. Namanya adalah Susan, demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Sementara W. Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan al-Basri sekitar tahun 700M.

Sebagai kesimpulan dalam makalah ini kedua aliran baik Qadariyah ataupun jabariyah memperlihatkan paham yang saling bertentangan. Meskipun mereka sama-sama berpegang teguh pada Al-Quran’. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya kemungkinan perbedaan pendapat dalam islam.

 

  1. Kesan

 

Al-hamdulilahirabbil al-amin

 

Telah selesailah makalah yang kami buat ini, makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka oleh karena itu kami mengharapkan kepada Dosen pengampuh Mata Kuliah ini dan para Mahasiswa untuk agar dapat memberi kritik dan saran terhadap makalah yang telah kami buat ini.

Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi kami dan umumnya bagi para Mahasiswa. Amin

 

Billahi taufiq wal hidayah

Summassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sufyan Raji Abdullah. Mengenal aliran-aliran dalam islam dan cirri-ciri ajaranya. Jakarta: Pustaka Riyadl. 2007
  2. Ilmu Tauhid Lengkap. Jakarta: PT Rineka Cipta. 1996.
  3. Abu Bakar Jabir El-Jazairi. Pola Hidup Muslim Aqidah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 1990.
  4. https://ibnuramadan.wordpress.com/2008/11/01/firqah-qadariyah-gen-firqoh-dan-akar-bidah/. Diakses pada tanggal 25 September 2015.

 

 

 

kata mutiara muslimah sejati

Muslimah  sejati tidak dilihat dari jilbabnya yang anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap.

Muslimah sejati tidak dilihat dari tangannya yang selalu membawa Al – Qur’an, tetapi dilihat dari hafalan dan pemahamannya akan kandungan Al – Qur’an tersebut.

Muslimah sejati tidak dilihat dari tundukan matanya ketika interaksi, tetapi bagaimana dia mampu membentengi hati.

Muslimah sejati tidak dilihat dari komitmennya dalam menjalankan kegiatan, tetapi dilihat dari keikhlasannya dalam bekerja.

Muslimah sejati tidak dilihat dari solatnya yang lama, tetapi dilihat dari kedekatannya pada Robb di luar aktiviti solatnya.

Muslimah sejati tidak dilihat kasih sayangnya pada orang tua dan teman – teman, tetapi dilihat dari besarnya kekuatan cinta pada Ar-Rahman Ar-Rahiim.

Muslimah sejati tidak dilihat dari rutin dhuha dan tahajjudnya, tetapi sebanyak apa titisan air mata penyesalan yang jatuh ketika sujud

Seorang muslimah sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di sebaliknya.

Muslimah sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana dia menutupi bentuk tubuhnya.

Muslimah sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang dia berikan tetapi dari keikhlasan dia memberikan kebaikan itu.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Muslimah sejati bukan dilihat dari kefasihan berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya dia berbicara.

Muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana dia berani mempertahankan kehormatannya.

Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhuatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhuatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.

Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang dia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana dia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.